Obrolan Seorang
Perempuan dan Anak Laki-Laki
Seperti
biasa percakapan yang sangat berkelas terjadi antara seorang perempuan berusia
35 tahun dengan seorang anak laki-laki yang berumur 6 tahun. Mereka hanya berjarak pada usia tapi
mereka sama-sama mempercayai bahwa mendialogkan apapun secara terbuka adalah
sebuah proses belajar yang efektif.
Dialog terjadi begitu egaliternya tak ada yang saling mendominasi,
keduanya saling belajar antara satu dengan yang lainnya. Si perempuan tak jarang terkagum-kagum
dengan komentar anak laki-laki ini, kadang muncul ide dan pikiran yang tak
pernah dipikirkan oleh sang perempuan yang muncul dari ide sang maestro cilik
ini.
Obrolan
malam tadi berlangsung begitu dewasanya, kedua pihak terlihat antusias dengan
suatu obrolan, mulai dari perasaan menyenangkan dan yang menggelisahkan,
pengetahuan, dan obrolan-obrolan ringan lainnya…berlangsung saban malam
menjelang mata terpejam dan mengakhiri hari yang selalu disyukuri.
Sang
perempuan hanya punya keinginan anak laki-laki yang baru saja berumur 6 tahun ini menjadi sosok yang berguna
dan bermanfaat bagi orang lain, menjadi pribadi yang ditunggu dan dibutuhkan
kehadirannya, menyenangkan lingkungannya.
Punya kekuatan hati dan pikiran yang jernih yang menuntunnya menjadi
pribadi tangguh serta mengatasi setiap persoalan yang dialaminya. setiap diskusi selalu diarahkan demi
pencapaian cita-cita itu.
Pembicaraan
malam ini diawali dengan melanjutkan obrolan yang tersisa malam kemarin,
seputar kereta api dan ikan-ikan paus.
Ya…begitulah selalu dimulai dari hal-hal yang sederhana tapi lalu
berlanjut kepada hal-hal yang lebih bermakna. Malam
tadi pembicaraan berpindah ke nama, sang laki-laki berumur 6 tahun ini dengan
penuh antusias, matanya berpedar menggetarkan tala rasa sang perempuan yang tak
pernah berhenti untuk mengagumi
kehebatan sang laki-laki kecil ini,
tak kalah bersemangat mengisi tabung pengetahuan sang laki-laki yang
nanti kelak akan menjadi pembela orang tertindas nan hebat ini. Tak jarang si perempuan harus berhenti
sejenak untuk mencari jawaban dan menjelaskan dengan bahasa yang langsung bisa diterima oleh pikiran
laki-laki kecil namun selalu mempunyai rasa ingin tahu yang besar ini.
Mata
kecil itu terlihat temaram, bak lampu yang kekurangan cahaya tapi mulutnya tak
berhenti bertanya memuaskan rasa ingin tahunya. Kenapa bunda, kasih nama Oude, Oude? sang perempuan menjawab
dengan amat hati-hati, Oude itu dari bahasa Belanda anakku, itu adalah nama
tempat dimana kita pertama sekali bertemu dengan dimensi ruang yang berbeda. Bunda ingin mengenang tempat itu
sebagai tempat dimana pertama kali kita merasakan kehadiran kita masing-masing,
tempat itu jauh dari rumah kita
saat ini. Anakku mereka punya
budaya yang berbeda dengan kita, juga cara pandang serta cara berpikir yang beda. Bunda memberi namamu itu, agar kamu punya cita-cita yang
tinggi dan jauh, sejauh perjalanan yang yang pernah kita tempuh namun pernah
terpikir kita tak akan mampu sampai disana, namun waktu membuktikan berbeda. Lalu apa arti Rif’at lanjutnya?
matanya semakin temaram….tapi mulut kecilnya semakin tajam bertanya. Rif’at itu artinya orang yang memiliki
derajat yang tinggi, sayang! jelas sang perempuan. Laki-laki ini tak puas, kenapa diberi nama Rif’at?, aku menyela, sayang…orang tua selalu
ingin memberi nama yang baik untuk anaknya, karena nama adalah doa bagi yang
dipanggil, karena nama adalah cita-cita, ayah dan bunda ingin kamu menjadi
orang yang memiliki derajat yang tinggi, seperti orang-orang yang sampai hari
ini masih disebutkan namanya dalam sejarah karena hasil karyanya yang berguna untuk
kehidupan orang lain, ayah dan bunda ingin kamu menjadi demikian, pintar!. tambahku. Sepertinya…laki-laki kecil ini tak ingin segera melewatkan
malam ini, antusias demikian menyala-nyala dari sinar matanya yang sedikit lagi
akan segera terpejam.
Night…night Oude, aku berdoa dalam hati semoga tuhan
memampukanku menghantarkan mu menjadi manusia yang berderajat, cintaku.